Sabtu, 26 Mei 2018

Perjalanan di Dua Kota Suci Islam (Madinah Al Munawarah dan Makkah Al Mukarromah) Part I


Tulisan kali ini bercerita tentang pengalaman saya umroh bersama mamak yang dilaksanakan pada tanggal 14 s.d. 23 Mei 2018 yang bertepatan dengan awal bulan Ramadhan 1439H. Ada hadits bahwa barangsiapa yang melakukan umroh di bulan Ramadhan maka ia seperti melaksanakan haji bersama Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam, maka betapa beruntungnya bisa dipanggil Allah untuk umroh di bulan Ramadhan ini.

Adapun persiapan yang saya lakukan sebelum melakukan perjalanan ini adalah melunasi segala pembayaran terkait biaya umroh, membeli perlengkapan pakaian umroh, menukarkan uang ke mata uang riyal, melakukan manasik umroh dan suntik meningitis di Asrama Haji Medan, dan juga menyelesaikan urusan pekerjaan kantor (walaupun akhirnya ada yang tetap dititipkan ke teman kerja) dan juga tugas-tugas kuliah. Persiapan tersebut seharusnya juga dilengkapi dengan berolah raga atau menyiapkan fisik karena ibadah umroh memerlukan fisik yang sehat dan kuat, meskipun tidak seberat haji, apalagi umrohnya dilakukan pada bulan Ramadhan yang pada bulan tersebut cuaca di Makkah sangat panas mencapai 43-45°C.

Ini Foto bersama Nenek Siti Fatimah sebelum berangkat ke Madinah
Kami berangkat pada tanggal 14 Mei 2018 dari bandara Kuala Namu, Deli Serdang menuju Madinah menggunakan maskapai Saudi Airlines. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih delapan jam di pesawat. Waktu Indonesia lebih cepat empat jam dibandingkan waktu di Arab Saudi. Pertama kalinya menaiki pesawat luar negeri berukuran besar dan pramugari/pramugaranya adalah orang asing. Yang menyedihkan adalah ternyata tempat dudukku dan mamak berseberangan dan terpisah oleh pembatas, sehingga saya harus bolak-balik mengecek keadaan mamak dan setiap kali saya mengeceknya, mamak selalu dalam keadaan tidur. Setelah turun di pesawat mamak pun bercerita bahwa dia bolak-balik ke kamar mandi karena kekenyangan makan.

Setiap jamaah di Madinah maupun di Makkah akan dipanggil dengan gelar “Yaa Hajjah”, “Yaa Hajjiah”, atau kalau sudah ibu-ibu akan dipanggil “Yaa Mama”. Ada kejadian lucu di bandara Madinah. Peraturan di Arab bahwa seorang perempuan yang  berumur di bawah 40 tahun jika bepergian umroh/haji harus ditemani mahramnya, karena saya belum bermahram akhirnya nama seorang jamaah bapak-bapak lah yang menjadi mahram saya. Jadi ketika di imigrasi bandara Madinah, saya pun harus berada tepat di belakang bapak tersebut agar menghindari kecurigaan dari petugas imigrasi. Alhamdulillah petugas imigrasi pada saat itu tidak iseng menanyakan tentang mahram. Menuju hotel kami menggunakan bus dan tiba di hotel Salihiyah Madinah pada malam hari dan langsung dilakukan pembagian kamar. Alhamdulillah saya sekamar dengan mamak dan hanya berdua, biasanya kalau berdua seperti itu dikenakan biaya tambahan, tapi Alhamdulillah baik di Madinah maupun di Makkah, kami sama sekali tidak dikenakan tambahan biaya.



Setelah pembagian kamar dan meletakkan barang-barang, kami pun bersama-sama menuju Masjid Nabawi untuk melaksanakan sholat jama’ maghrib dan isya. Sungguh senang dan terharu bisa mengunjungi Masjid Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami pun sujud syukur untuk mensyukuri nikmat yang sangat langka itu. Alhamdulillah lokasi hotel kami dekat dengan Masjid Nabawi dan langsung menuju Gate 26 yang menuju lokasi sholat jamaah wanita juga dekat dengan tempat perbelanjaan. Prinsipnya adalah gate yang kita masuki harus sama dengan gate ketika kita keluar untuk menghindari tersesat.



bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Feed me, Please =D