Sabtu, 26 Mei 2018

Perjalanan di Dua Kota Suci Islam (Madinah Al Munawarah dan Makkah Al Mukarromah) Part II

Di Madinah Al Munawarrah


Setiap memasuki Masjid Nabawi ataupun Masjidil Haram, jamaah yang membawa tas akan diperiksa oleh petugas. Lebih baik jika selalu membawa plastic kresek untuk menyimpan sandal, meskipun agak repot karena akan memudahkan ketika ingin keluar dari masjid. Jika ingin minum air zamzam, jangan khawatir karena di dalam masjid Nabawi banyak sekali tersedia air zamzam lengkap dengan cup untuk minum. Ada dua macam air zamzam menurut suhunya, yaitu air zamzam yang biasa (terdapat tulisan “not cold”) dan ada air zamzam yang dingin. Lebih baik pilih yang “not cold” karena cuaca disana sangat berbeda dengan cuaca di Indonesia.

Sewaktu sholat tarawih pertama, kami masih di Madinah dan pada saat itu jamaah sangat ramai, sepulang dari masjid saya dan mamak tidak keluar dari Gate 26 melainkan dari Gate 30 karena jamaah yang ramai dan berdesak-desakkan sehingga kami pun terpisah. Saya sampai duluan di hotel sambil berdoa semoga mamak bisa sampai juga ke hotel. Sekitar 15 menit kemudian barulah mamak muncul dari keramaian. Kondisi di hotel pun tidak kondusif jika di jam-jam sholat ataupun jam makan. Lift yang tersedia sedikit sedangkan jamaahnya banyak sehingga harus menggunakan tangga manual, yang tidak mungkin kami tempuh karena kami berada di lantai 10. Akhirnya kami menyiasatinya dengan naik tangga dulu sampai lantai 3 ataupun lantai 4 setelah itu baru menunggu lift berharap di lantai tersebut sudah tidak lagi sepadat jika menunggu di lantai lobby.

Pintu Masuk ke Raudhoh
(Ini adalah bangunan utama Masjid Nabawi)
Di Masjid Nabawi terdapat makam Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar As Siddiq dan Umar bin Khattab Radiyallahu ‘anhumaa dan juga salah satu taman-taman surga yaitu Raudhah. Setiap saat banyak jamaah yang ingin ziarah dan mendatangi Raudhah. Sehingga ada pembagian kelompok-kelompok menurut bangsa, seperti bangsa Melayu, Turki, India, dsb. Waktu yang disediakan juga sangat singkat. Padahal orang berlomba-lomba ingin sholat dan berdoa di Raudhoh. Dorong-dorongan dan berdesakan adalah hal biasa disana. Raudhoh ditandai dengan karpet hijau, jadi jika sudah berada di Raudhoh laskar akhawat biasanya meneriakkan “sholli-sholli”. Rasanya tidak akan cukup jika hanya sekali kesana, tapi saya dan mamak baru dapat sekali kesempatan kesana. Semoga lain kali masih bisa mengunjunginya lagi. Aamiin.
Masjid Quba

Selain Masjid Nabawi, kami pun melakukan wisata ke Pekuburan Baqi’ (meskipun hanya melewatinya), Masjid Quba, Bukit Uhud, dan Kebun Kurma. Masjid Quba adalah masjid yang pertama kali dibangun oleh Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam. Di areal parkiran dan halaman masjid banyak sekali pedagang kurma dan oleh-oleh khas Arab, murah-murah dan kualitas kurmanya bagus. Hehe, emang di setiap tempat ziarah pasti ada yang berjualan. Anggap saja sedekah tapi juga jangan jadi memberatkan. Ada teman yang membeli kurmanya dalam jumlah banyak, lalu dibagi-bagikan ke teman-teman satu rombongan, malah jadi nambah pahalanya beliau. Di bukit Uhud, kami melihat pemakaman para syuhada perang Uhud, salah satunya adalah Sayyidina Hamzah radiyallahu ‘anhu yang merupakan paman Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat beliau cintai. Bukit Uhud adalah bukit yang dicintai Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam dan merupakan salah satu tempat yang akan juga berada di dalam surga selain Ka’bah dan Raudhah.
Kebun Kurma

Jika teman-teman ingin membeli oleh-oleh, maka lebih tepat jika teman-teman membelinya di Madinah, selain tidak akan mengganggu ibadah, untuk jenis lebih beraneka ragam dan harga juga lebih terjangkau. Kalau saya sendiri karena dari rumah niatnya tidak ingin berbelanja, akhirnya hanya membeli sedikit saja untuk orang di rumah dan souvenir kecil untuk teman-teman dan adik-adik.

bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Feed me, Please =D