Kamis, 11 Oktober 2012

Wisuda and My Big Family

Sedih ketika harus meninggalkan mereka di bandara sore itu, Soekarno Hatta @terminal 3 Cengkareng.
Senin, 8 Oktober 2012, aku menjemput kedua orang tuaku di bandara. Bersama seorang teman, kami berangkat menggunakan Damri untuk sampai kesana. Alhamdulillah kami dipertemukan kembali setelah sebulan berpisah. Mereka datang untuk menghadiri salah satu momen terpenting dalam hidup mereka, yaitu wisuda anak semata wayangnya.
Dalam beberapa waktu sebelumnya, emak sibuk menghubungi saudara yang ada di sekitaran daerah Bogor, karena ternyata lokasi wisudaku berada di SICC (Sentul International Convention Centre). Alhamdulillah, nomor yang disimpan emak masih aktif dan dapat dihubungi. Ternyata, emak dan keluarga kami yang di Bogor itu sudah lama tidak berjumpa yaitu sudah hampir 30 tahun, semenjak emak merantau ke Medan. Keluarga emak yang dimaksud adalah pa'de, yang silsilahnya adalah pa'de anak dari kakaknya nenek.
Selepas kami bertemu di bandara, kami langsung mencari kendaraan untuk menuju ke rumah pa'de. Bermodal alamat yang pa'de berikan sebelumnya, kami bertiga langsung menuju alamat tersebut. Meskipun rumahnya lumayan jauh, alhamdulillah kami tidak kesasar, hehe.
Keluarga pa'de baik-baik banget, emak dan bapak langsung ngobrol dengan keluarga pa'de. Rumahnya tidak besar, tapi cukup untuk kami tinggal selama dua hari lamanya. 


Keesokan harinya, kami berangkat pagi-pagi sekali ke stasiun kereta api untuk berangkat menuju rumah saudara di Jatinegara. Pa'de pun mengantarkan kami sampai ke stasiun Pondok Cina. Menggunakan commuter line pagi-pagi ternyata gak banget . Mungkin memang karena jam pergi kantor, sehingga gerbong penuh dengan orang kantoran dan berdesak-desakan. Kasihan emak, padahal di Medan gak pernah naik kereta api sambil berdiri. 
Ternyata dari stasiun Pondok Cina, kami tidak langsung menuju ke stasiun Jatinegara, melainkan harus ke Tanah Abang kemudian menuju stasiun Senen untuk kemudian menuju stasiun Jatinegara. Sangat melelahkan memang, tapi alhamdulillah di tengah perjalanan gerbong sudah mulai kosong, sehingga kami bisa duduk dan bisa santai. Yang kasian lagi, saat pertama kali masuk ke kereta, bapak diminta petugas untuk pindah dari gerbong khusus wanita, padahal kan bapak baru pertama kali naik kereta api, akupun takut nanti bapak malah tertinggal di kereta. Menurut cerita bapak, bapak setiap menit bertanya kepada orang-orang di sekitarnya, apakah sudah sampai jatinegara atau belum, haha..

Cukup panjang perjalanan, sampai akhirnya tiba di rumah pa'de yang di Jatinegara. Maaf agak membingungkan, tapi memang yang di Bogor maupun di Jatinegara aku menyapanya dengan panggilan pa'de. Meskipun pa'de yang di Jatinegara hubungannya tidak terlalu dekat dengan emak, mereka seperti sudah menjadi keluarga dekat. Keluarganya ramah dan baik-baik. Tidak terasa membosankan bercerita dengan mereka, hingga waktupun menjelang siang. Padahal kami berencana akan ke Tanah Abang. Pa'de dan bu'de pun kemudian mengantarkan kami sampai mendapat angkutan Kopaja yang dapat mengantarkan kami sampai ke Tanah Abang. Sebelum pergi, bu'de sempat memberikan uang kepadaku, emak dan bapak. Semacam uang THR, tapi waktu itu bukan hari lebaran, aneh memang, tapi bu'de senang bisa memberikan uang itu kepada kami, kami pun tentu saja senang, haha..

Ke Tanah Abang niatnya cuma mau membelikan sepupuku yang berumur 11 tahun mainan helikopter yang memakai remote control. Eh, malah terbeli baju dan celana untuk emak dan bapak, yah kan udah di Tanah Abang, sayang banget cuma belanja sedikit hehe. Meskipun mainannya cukup merogoh kantong, tapi emak tetap membelikan sepupuku mainan itu, kata emak dia udah mimpi-mimpi sejak tiga tahun yang lalu untuk bisa memiliki mainan remote control itu. Senang dan tidak sabar sepupuku menanti kepulangan emak dan bapak ke Medan, sebenarnya tidak sabar pengen main mainannya itu. Setiap hari pasti dia menelpon emak dan bertanya sedang apa dan kapan mau pulang .___. " haha

Setelah mendapatkan semua yang dibutuhkan kami pun pulang. Perjalanan pulang ternyata tidak lebih mudah dari perjalanan pergi, karena kami tidak tahu kendaraan ke rumah pa'de di Bogor setelah sampai di stasiun Pondok Cina. Kami pun sempat dibingungkan oleh informasi salah yang diberikan oleh petugas kereta api di stasiun, tapi alhamdulillah kami bisa sampai di rumah pa'de lagi dengan selamat. Satu hal yang membuatku kagum sama pa'de. Kami selalu tidak sadar bahwa pa'de sudah mengikuti angkutan kami beberapa ratus meter dari simpang jalan rumah pa'de. Tidak hanya sewaktu pulang dari Tanah Abang, tapi juga saat kami sampai pertama kali di Bogor, lebih tepatnya di daerah Cimanggis, Jalan Raya Bogor.

Saat sore hari, kami masih belum bisa memastikan mau naik apa besok ke SICC karena pa'de tidak punya mobil, sedangkan jalan singkat menuju kesana harus melalui jalan Tol. Akhirnya pa'de mengusulkan untuk naik mobil temannya, tapi tidak ada supirnya. Meskipun bapak bisa menyetir mobil, tapi bapak kan tidak tahu jalan disana. Alhamdulillah pa'de dari Lampung sampai ke Bogor dan mobilnya dapat digunakan untuk mengantarkan kami ke SICC. 

Penasaran dengan kisah selanjutnya? hehe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Feed me, Please =D