Rabu, 16 November 2011

Kisahku dan Ibuku (Cerpen) Bag 1


Setiap malamku ibu selalu ada dalam mimpi-mimpiku. Kasihnya yang tulus dan pelukannya yang menghangatkan tak pernah lekang dari hatiku. Tak diragukan lagi aku benar-benar menyayanginya. Teringat akan kejadian dua puluh tahun yang lalu ketika aku ditelantarkan oleh ibu kandungku di depan sebuah masjid kecil di sebuah desa kecil perbatasan Aceh dan Sumatera Utara. Waktu itu umurku tiga tahun, badanku sangat panas karena sudah dua jam aku kehujanan di dinginnya malam. Lalu tiba-tiba sosok itu datang, seorang waninta yang sekarang ini aku panggil ibu.
“Ali, bagaimana sekolahmu tadi nak?”,Tanya ibu padaku
“Alhamdulillah bu, tadi Ali mendapat urutan pertama dalam lomba lari antar kelas..” jawabku senang.
Lalu seperti biasa, ibu langsung memelukku, menciumku, seraya berdoa agar hidupku selalu dilimpahi keberkahan. Begitulah keseharianku semasa aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Namun semua berubah seketika saat aku berumur 15 tahun, aku mendapat beasiswa melanjutkan sekolahku ke luar kota tepatnya di SMAN3 Padmanaba Yogyakarta.
“Nak, kamu benar-benar harus pergi ya?” Tanya ibuku sedih
“Iya bu, lumayan bu ini sekolahnya gratis karena beasiswa kan? Jadi ibu gak perlu terlalu lelah bekerja lagi karena Ali akan berusaha mempertahankan dan meningkatkan prestasi Ali disana. Ini juga salah satu jalan untuk menggapai cita-cita Ali bu. Ibu tidak perlu khawatir, Ali akan selalu menghubungi ibu atau ibu juga bisa menghubungi Ali kapan saja”. Aku mencoba menghibur ibuku yang kutahu sangat sedih melepaskan kepergianku. Sebenarnya aku juga tidak tega meninggalkan ibu sendirian. Beliau sudah semakin tua, umurnya saja sudah hampir mencapai setengah abad. Tubuhnya yang dulu sangat sehat, sekarang sudah semakin lemah. Penglihatannya juga sudah mulai rabun.
Akhirnya aku pun pergi meninggalkan ibu, tapi syukur alhamdulillah para tetanggaku bersedia menjaganya dan senantiasa mengunjunginya. Di umurku yang bisa dibilang masih seumur jagung, berat rasanya untuk mulai hidup mandiri, Ibu tahu itu, dia pun membawakanku bekal makanan seminggu dan uang untuk hidupku disana. Walaupun aku menolak karena di sana nanti aku akan tinggal di asrama dan sudah pasti kebutuhan akan makanan akan juga dijamin, tapi ibu tetap memaksaku. Ibu teringat akan keponakannya yang mengalami nasib tragis karena di tempat perantauannya dia malah meninggal dunia akibat kekurangan makanan.
Waktu pun terus berlalu, karena kondisi keuangan yang terbatas, aku hanya pulang setahun sekali kalau hari lebaran tiba. Sampai suatu ketika, tetanggaku menelponku.. (bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Feed me, Please =D